Puisi: Sesal Tiada Berguna
Jangan tanyakan apa kabar langit ketika duniamu memesona. Gemercik sesal tiada akan datang saat tawamu membuncah.
Dunia memang indah. Sebegitunya diri memeras keringat. Demi sesuap nasi. Tahan banting tapi berdusta kepada tulang. Kata hati telah terabaikan.
Sang Pencipta duduk manis menatap dunia, tepatnya di kala kau lalai mengingat tanah.
Hati yang tandus.
Jiwa yang terkikis oleh harta.
Tulang-tulang yang mulai rimpuh.
Kaca-kaca yang berkarat.
Sesal tiada berguna.
Jika datang mendung dari langit, mungkin angin sejuk tidak akan berguna lagi. Kau takkan bisa menjemur pakaian hati. Semua tinggal cerita yang bersiap menanti di singgahsana.
Terang atau gemuruh. Bahagia atau malah peluh. Sesal itu tiada berguna.
Andai sesal ada di awal waktu, langkah pikir belum akan membelot. Napas akan berguna. Tulang akan semakin kokoh. Juga, kaca-kaca dalam hatimu tidak akan sekotor itu.
Puisi: Syukur Penyejuk Jiwa
Senyum itu semu ketika kulihat dari kacamata manusia. Terkadang senyum itu tumpah karena berbalas. Tapi hati manusia terbolak-balik.
Ketika kepenatan tiba, gerimis menyusul di belakang jiwa. Rangkaian senyum dengan bibir penyejuk seakan-akan runtuh tertimpa duka.
Begitulah manusia ketika tak berhamba. Laksana menggantung harapan di atas pungguk padi, kekecewaan pasti datang merunduk pilu pula.
Senyum jadi fatamorgana tanpa syukur penyejuk jiwa. Nikmat tiada akan bertambah. Napas pun enggan berubah berkah.
Segelontor kemewahan bakal menuntut pertanggungjawaban. Entah mau jawab apa, karena lalainya syukur telah membakar sukma.
Jiwa terlalu panas menelan bergunung-gunung nikmat dunia. Puas tanpa batas. Celaka di akhir bahkan tanpa bias.
Syukur semestinya menjadi penyejuk jiwa. Senyum tulus jadi pertanda. Bukan karena banyaknya harta, melainkan seberapa lancar diri melantunkan hamdalah dalam aksi nyata.
Puisi: Kufurmu Mencelakakan
Ingat dia tapi lupa dengan Tuhan. Aduhai mencelakakan. Tulus dalam pengorbanan tapi setengah hati dalam sujud. Tunggulah! Petir itu akan datang membawa segudang penyesalan.
Ketika kufur bersinggah, hati jadi semakin gersang. Tubuh yang lemah ini kering kerontang dan tiada berdaya berlindung di bawah naungan bintang.
Salah naungan. Nyatanya dunia bukan Tuhan. Semuanya hanya permainan yang bakal membuatmu lupa dengan satu-satunya naungan.
Maha Kasih Maha Sayang, aduhai rinduku kepada-Mu bukan kepalang. Rindu itu semestinya bukan bias, tapi nafsu dunia mencelakakan.
Sesungguhnya diri benar-benar berada dalam kerugian. Kufurmu menyengsarakan. Semua kisah akan semakin terang di hari pembalasan.
Sebelum hari itu tiba, datanglah kepada syukur dan duduklah di baitullah seraya bersandar pada satu naungan. Di sana, ucapan alhamdulillah akan lebih berharga daripada sekadar renungan.